Catatan

Sendal Jepit

sendal-jepit

Sendal Jepit ( RahmanHistory )

sendal jepit

Sendal Jepit

Semua orang pernah menggunakannya, baik yang muda maupun yang tua, baik yang kaya maupun yang berkecukupan, baik pria maupun wanita, baik yang berkedudukan tinggi maupun yang berkedudukan rendah. Intinya semua orang pernah menggunakannya, tanpa ada rasa malu ataupun enggan.

                Sendal jepit melambangkan kesederhanaan, kesederhanaan dalam life style atau gaya hidup. Seperti apapun model terbaru dari sandal – sandal yang terkesan mahal, sandal jepit masih ada dan tidak akan pernah lekang oleh waktu. Dari zamannya nenek kita sampe sekarang, Sendal jepit adalah sandal yang bersejarah didalam dunia peralaskakian.

                Dengan bahan dan design yang sederhana, Sendal Jepit dapat melindungi kaki kita teutama bagian telapak kaki. Melindungi dari duri yang berserakan di sepanjang peralanan kita, belum lagi pecahan kaca atau yang popular disebut beling itu. Selain itu Sendal Jepit juga melindungi telapak kaki dari debu-debu pada lantai atau tempat kita berpijak dimana kita tempuh saat berjalan. Coba bayangkan kalau tidak ditemukannya sandal jepit, kebayang gak betapa seringnya kaki kita tertusuk duri atau pecahan kaca maupun debu-debu yang mengakibatkan ketidakbersihan telapak kaki kita.

sendal jepit (1)

Kesetiaan Sendal Jepit

                Namun sekarang orang-orang telah beralih pandang, mereka menyadari betapa kunonya mereka ketika menggunakan sandal jepit. Mereka beralih menggunakan alas kaki yang bahan serta design-nya yang terlihat lebih anggun ketimbang sandal jepit. Mereka rela meninggalkan bahkan melupakan sandal jepit yang selama ini menemani mereka kemanapun mereka pergi. Mereka lebih memilih alas kaki yang menurut mereka lebih bagus ketimbang sandal jepit yang terkesan sederhana.

                Mereka lupa bahwa sendal jepit maupun alas kaki lainnya meiliki fungsi yang sama, yakni melindungi telapak kaki dari ancaman-ancaman benda asing. Namun mereka lebih memilih alas kaki yang lebih bagus dari sendal jepit, bahkan mereka rela merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan alas kaki yang katanya bagus itu.

                Sendal jepit yang tak berdaya hanya biasa berdiam diri di rak sendal paling bawah, dengan berselimutkan debu dan sarang laba-laba yang melintang kesana kemari. Sendal jepit hanya bisa  menunggu dirak sendal dan berharap ada orang yang mengambil dan menggunakan layaknya alas kaki yang semakin hari semakin banyak mengeluarkan inovasi baru itu. Namun itu hanya sebatas harapan belaka, sendal jepit hanya bisa mengenang saat-saat indah dimana pemiliknya selalu menggunakannya kemanapun pergi. Pergi ke warung membeli bahan masak didapur, sendal jepit adalah sarana utama yang dicari seperti layaknya kendaraan transportasi. Terkadang mereka lebih memilih untuk mengurungkan niatnya pergi ke warung kalau tidak menemukan sendal jepit. Tidak hanya kewarung saja, pergi ke ladang maupun pergi ke sawahpun sendal jepit selalu setia menemani dan melindungi.

Sendal Jepit 01

Kesederhanaan

                Sekarang sendal jepit tidak lagi menjadi prioritas mereka jika ingin bepergian dari rumah mereka. Mereka lebih memilih alas kaki yang dapat membuat mereka terlihat lebih trendi atau dalam bahasa lainnya mengikuti perkembangan zaman. Ada perasaan yang aneh ketika mereka melakukan bepergian atau melakukan aktifitas diluar rumah menggunakan sendal jepit. Mereka men-cap dirinya sebagai orang yang kuno jika menggunakan sendal jepit. Alangkah malangnya nasib sendal yang terlupakan oleh pemiliknya.

                Meskipun sendal jepit sudah tidak lagi diutamakan, namun sendal jepit selalu setia menanti di rak sendal paling bawah. Ia pun yakin suatu saat nanti pemiliknya akan mencari dan menggukanannya kembali. Meskipun sebagai pelarian saja, ketika cuaca sedang hujan dan pemiliknya harus bepergian keluar rumah, disaat itulah sendal jepit dicari pada rak sendal paling bawah. Meskipun agak sulit mencarinya karena sendal jepit itu keberadaannya terselip-selip diantara dubu dan kotoran, namun pemiliknya akan tetap menggunakannya. Kenapa? Karena alas kaki yang mereka banggakan itu tidak tahan air.

 sendal jepit (2)

Untuk itu mari kita langkahkan kaki menuju rak sendal yang ada di rumah maupun di kost-kost-an kita. Kita lihat bagaimana keadaaan sendal jepit kita yang tanpa sadar kita lupakan itu, lalu kita ambil dan kita bersihkan dari debu-debu dan kotoran yang menyelimutinya. Agar aura sendal jepit itu kembali bersinar dan selalu tersenyum kepada kita.
Coba kita pikirkan bagaimana perasaan sandal jepit itu karena sekian lama kita abaikan. Cobalah kita kenang kisah-kisah yang telah berlalu bersama sendal jepit kita. Maka berlinanglah air mata kita ketika mengingat kanangan indah masa lalu bersama sendal jepit.
Saya hanya mengingatkan Sobat saja, betapa berjasanya sendal jepit itu. Coba Sobat rasakan, sendal jepit itu sama dengan hati kita, jika pasangannya menghilang pergi entah kemana maka satu sendal jepit saja akan tidak berdaya dan meresa tidak ada gunanya lagi mereka hidup tanpa pasangan.

Terinspirasi dari Sendal Jepit Favorite saya
cerita ini khusus untuk sendal jepit yang terlupakan
Semoga kita sadar betapa berharganya sendal jepit
banyak cerita dibaik kesederhanaannya

Baca Lagi? Pilih Artikel:

Semoga Bermanfaat
Sendal Jepit
Iklan

Diskusi

34 thoughts on “Sendal Jepit

  1. Ini kendaraan andalan saya.. 🙂

    Suka

    Posted by kutukamus | 24 Juli 2014, 19.27
  2. kalo ngeliat sendal jepit yang beneran sendal jepit. keingetnya langsung sama mesjid atau musholla masaa

    Suka

    Posted by Arifinda D. Putri | 8 November 2015, 14.13

Berikan Komentar , Kritik dan Saran Anda mengenai Tulisan Saya.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: